(BUKU) STILL ALICE

Posted on Posted in Review
Share this : Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on TumblrEmail this to someonePrint this page

51UcUARaMjL._SY344_BO1,204,203,200_Menjadi Alzheimer dan Tetap Menjadi Alice.

Ruang terbuka umum di depan sebuah kampus dengan gaya arsitektur klasik sontak menjadi gelap, sebagian bayangan manusia kemudian menjadi pudar sampai hampir tidak terlihat sama sekali. Dunia perlahan seperti berputar dengan pusat putaran ada di depan matanya. Dia hilang arah, tiba-tiba tak tahu kemana harus mengayunkan langkah kakinya. Pikirannya seperti sesaat dicabut dari kepalanya. Ia kemudian menundukan kepalanya, setengah panik dia mencoba meyakinkan dirinya ini semua biasa saja. Mana mungkin, jalan yang ia lalui hampir setiap hari tiba-tiba seperti baru dia tapaki sama sekali.

Sepenggal cerita tentang kejadian aneh yang menimpa Alice, yang kemudian di diagnosa mengidap Alzheimer dini. Nama lengkapnya Dr. Alice Howland, seorang profesor linguistik Columbia University. Seorang dosen pengajar, peneliti, dan kerap menjadi pembicara akademik. Saat di vonis mengidap alzheimer yang unik Alice berusia 50 tahun. Hidup dalam keluarga harmonis dengan Suami yang sangat memberikan perhatian kepadanya. Alice dikaruniai tiga orang anak perempuan yang sangat menyayanginya.

Semua bermula ketika Alice memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter ahli syaraf perihal hal yang dialaminya suatu kali saat dia melakukan rutinitas joging-nya di sore hari. Yang dia ingat adalah ingatannya seperti hilang sesaat. Disusul kemudian dengan beberapa kejadian kecil lainnya yang dia alami sampai akhirnya ia menyimpulkan bahwa ini bukanlah kejadian lupa biasa yang dialami manusia saat beranjak tua. Alice mencoba mengungkap sendiri misteri atau penyebab dibalik kejadian-kejadian janggal yang ia alami belakangan. Sampai di satu titik Alice mulai sangat khawatir dan memutuskan untuk mengkonsultasikannya dengan dokter ahli.

Alice didiagnosis menderita Alzheimer tahap awal, diagnosa yang tidak lazim karena penyakit ini biasanya tidak dialami oleh manusia dengan usia di bawah 65 tahun. Seluruh keluarganya belum mengetahui sama sekali tentang hal ini. Kalaupun Alice memutuskan untuk menghadapi semuanya sendiri, di sisi lain dia juga punya kekhawatiran bahwa hal yang terjadi padanya juga terjadi pada salah satu anak-anaknya.

Alice kemudian memutuskan untuk menyembunyikan penyakitnya. Dia coba mengatasi sendiri dengan caranya. Mulai dari membuat catatan kecil yang mungkin membantunya mengingat banyak hal sampai kepada satu tindakan untuk bunuh diri yang dia tata dengan sangat rapih. Begitu perhatian dan kasihnya dia terhadap keluarganya, Alice memutuskan tidak ingin membebani keluarganya terhadap penyakitnya. Di komputer pribadinya dia membuat catatan yang mengarahkan dia untuk membunuh dirinya sendiri dengan meminum pil tidur dengan dosis sangat tinggi. Cara ini dia rancang untuk jika di kemudian hari penyakit alzheimer yang dia idap sudah sangat akut dan merepotkan keluarganya. Terlepas dari pemikirannya yang ekstrim, dibalik itu sangat terlihat bahwa Alice sangat mencintai suami dan anak-anaknya.

Sebuah pukulan bagi keluarga Alice ketika akhirnya mengetahui kabar kurang sedap ini. Alice dan John menutupinya dengan sikap sangat bijak khas orang tua terhadap anak-anaknya. Terima atau tidak ini adalah kenyataan yang harus dihadapi oleh Alice, John dan seluruh anggota keluarganya. Anak dan menantu Alice sangat ber-empati terhadap apa yang dialami Alice, mereka memberikan dukungan penuh untuk proses penyembuhan penyakit alzheimer yang di idap nya. Disinilah cerita drama keluarga Alice yang begitu mengharukan sekaligus memberikan banyak sekali pelajaran hidup benar-benar bisa dirasakan.

“Didiagnosis Alzheimer bagaikan terkena kutukan. Inilah diri saya sekarang, seorang penderita demensia.  Tapi, saya bukanlah apa yang saya katakan atau saya lakukan atau saya ingat. Saya lebih dari itu. Saya adalah seorang istri, ibu, teman, dan calon nenek. Saya masih merasakan, memahami, dan masih layak menerima cinta dan kebahagiaan dari hubungan-hubungan tersebut.” Ujar Alice dalam sebuah pidatonya dihadapan sebuah komunitas peduli alzheimer.

Buku “Still Alice” memberikan banyak cerita dan pelajaran tentang hidup, keluarga, dan kasih sayang. Di tengah derita penyakitnya, Alice tetap menjadi Alice. Seorang Ibu, istri, pengajar, profesional, dan juga seorang teman. Menakjubkan membayangkan kehidupannya yang penuh drama. Buku ini dapat menjadi gambaran bagi pembacanya dan mengajak untuk memberdayakan penderita Alzheimer. Memberikan pelajaran tentang kepedulian terhadap sesama, kepedulian kepada orang-orang yang menyandang disabilitas, mengidap penyakit akut atau hal yang diluar keinginan kita semua. Sungguh sangat bijak apabila seseorang mengidap penyakit seperti mengalami cedera tulang belakang, jika seseorang kehilangan anggota badan atau menyandang disabilitas fungsional akibat stroke, mestinya keluarga dan para tenaga profesional bekerja keras untuk merehabilitasi mereka agar dapat mengatasi dan melaluinya, meskipun mungkin ada bagian dari diri dan hidupnya yang sudah tidak dapat berfungsi, mereka tetap manusia sepenuhnya yang berhak menikmati kehidupan yang layak dan lebih baik.

 

Share this : Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on TumblrEmail this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *