(Film) “Tanda Tanya”

Posted on Posted in Review
Share this : Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on TumblrEmail this to someonePrint this page
 
Pukul 16.15 waktu dipampangkan disini. Pandangan keluar hanya terlihat kelabu, langit tidak panas dan tidak juga menjatuhkan butir-butir hujan. Kendaraan lalu lalang tidak seramai biasanya, mungkin cuaca sendu  seperti ini memang lebih pas untuk dinikmati di peraduan masing-masing.

iTunes masih mengalunkan lagu “Pada Suatu Ketika” karya Sujiwo Tejo seiring alunan jari saya diatas keyboard. Saya tiba-tiba ingin sekali mendengarkan lagu tersebut sejak malam tadi saat menyaksikan satu adegan di film “?” (Tanda Tanya). Menurut saya sebuah Soundtrack film memiliki keunikan sendiri sebagai sebuah lagu. Pada adegan film tersebut terasa pas sekali momen dengan lagu yang mengiringi. Ya! kekuatan visual juga yang jelas berperan merangsang Theatre of Mind dari setiap siapa yang mengalami pengalaman mendengarkan dan melihat sebuah soundtrack dalam film. Contoh lainnya adalah rangsangan ingatan saya saat mendengarkan lagu “21 Guns” milik Green Day yang selalu mengarah ke adegan dimana lagu itu dimainkan di film Transformer 2. Saya bisa mengingat jelas sekali setting dan momen saat lagu itu didendangkan. Konyolnya saya justru tidak ingat terlalu jelas video klip official lagu tersebut.  Selain visual yang disertakan, saya pikir kualitas suara full stereo adalah satu faktor lagi yang membuat sebuah lagu pada soundtrack film lebih “terasa”.

Bicara tentang film “?” tersebut. Belakangan sejak tayang di bioskop banyak sekali pergunjingan atau kontroversi soal film ini. Wajar. Karena film ini mengusung tema religius, dan tidak main-main, film ini mencoba me-mix beberapa kepercayaan sekaligus dalam satu film. Riskan menurut saya mengingat kultur dan mindset sasaran penikmat-nya yang rasanya kebanyakan mungkin memaknai film tersebut tidak pada porsi yang diinginkan pembuatnya. Terbukti dengan munculnya berbagai kontroversi dari berbagai pihak yang saya pikir dasarnya adalah mungkin kesadaran hakiki atau mungkin juga fanatisme berlebihan terhadap satu ajaran atau keyakinan. Semua itu akan kembali lagi kedalam kepala setiap individu yang sudah menikmati (atau memilih untuk membenci) film ini. Sangat mustahil kita memahami, mengamini, atau menolak semua sudut pandang dan interpretasi yang sangat berbeda-beda

Terlepas dari semua muatan ideologis atau agamais dalam pesan yang disampaikan oleh film tersebut, saya lebih memilih untuk menikmati film ini dari sudut pandang yang berbeda dan mungkin menangkap pesan juga dari sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang yang lebih menyenangkan dan tidak mengundang pergunjingan atau perdebatan. Let’s take it all positif dude!

“?” adalah sebuah karya seni.

Saya menikmati film ini dari sudut pandang seorang penikmat karya seni, sudut pandang seseorang yang memiliki dua bola mata yang rindu untuk dimanjakan. Film ini adalah sebuah karya seni yang cukup berhasil mengkomposisikan banyak elemen menjadi sebuah kesatuan pemandangan yang enak dinikmati. Saya suka sekali dengan setting di film ini. Warna-warnanya yang kusam, gelap, kotor, selaras sekali membentuk tema jadul yang ingin ditampilkan. Lengkap lagi dengan atribut danaccesories jadul lainnya seperti perabot sampai poster-poster iklan jaman dulu. Tapi aneh, ternyata setting film ini gak se-jadul itu, ternyata setting-nya tahun 2010. Ya, apapun itu, saya menikmati kok setiap detail scene di film ini.

Selain itu juga komposisi soundtrack-nya yang saya suka. Penyajiannya juga unik seperti 2 lagu Sheila on 7 yang dalam adegan dibawakan oleh para pengamen. Satu yang lainnya adalah lagunya Sujiwo Tejo seperti yang sudah saya ungkapkan diatas.

Dalam 5 hari disaksikan oleh 100.000 penonton.

Demikian tagline yang terpampang di situs resmi film “?” 
Hebat bukan? jumlah penonton sebesar itu dalam beberapa hari. Ini satu sudut pandang lagi yang saya maknai dari film ini, percaya atau tidak, pergunjingan di social media, pemberitaan media, kontroversi, hujatan dan segala macamnya sudah berhasil menggugah keinginan menonton masyarakat. Terlepas dari efek yang kemudian ditimbulkan dari pesan yang disampaikan film ini, dari segi komersil jelas hasilnya adalah POSITIF. Persinggungan langsung dengan elemen sosial masyarakat yang dihadirkan dalam film ini justru seperti mencengkram langsung pangsa pasarnya. Keterlibatan emosi adalah elemen terbaik yang dapat menjadikan daya tarik dari sebuah produk. Apapun bentuk emosi tersebut, secara logis akan ada satu memori khusus yang tersimpan baik tentang produk tersebut.

Itulah beberapa sudut pandang dan interpretasi berbeda yang saya lihat dari film “Tanda Tanya”. Masih banyak sekali kemungkinan sudut pandang dan interpretasi berbeda yang mungkin dihadirkan oleh setiap siapa yang menonton film tersebut. Itu semua pilihan. Pilihan utnuk menjadikannya kontroversi, pergunjingan, atau pilihan untuk dinikmati sebagai sebuah hiburan. Dan saya lebih memilih untuk menikmatinya sebagai sesuatu yang memberikan dampak positif.

“The positive thinker sees the invisible, feels the intangible, and achieves the impossible.”

– Unknown

 

*Image from http://filmtandatanya.com/

 

Share this : Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on TumblrEmail this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *